RSS

Minuman Kaya Antioksidan

24 Mar
Minuman sehat

Minuman sehat

Tuntutan akan makanan dan minuman sehat makin tinggi saat ini seiring dengan makin bertambahnya tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat akan hidup sehat. Selain faktor makanan, faktor minuman penunjang kesehatan pun semakin berkembang, minuman tradisional yang berakar dari warisan leluhur yang notabene-nya back to nature menjadi incaran tidak hanya yang ber-punya saja tetapi juga semua lapisan masyarakat, juga didukung hasil riset-riset terbaru yang menyatakan bahwa minuman yang berasal dari bahan-bahan segar lebih berbobot dalam hal komposisi nutrisinya dibandingkan minuman modern dan bersoda. Sudah saatnya minuman penyegar seperti teh, kopi tubruk, jamu-jamu tradisional dan jus buah  kaya antioksidan diadopsi dari yang hanya sebatas hasil riset di atas kertas menjadi tren-hidup kita sehari-hari.

Dimulai dari yang biasa didapat di warung-warung pada pagi hari, yaitu teh dan kopi, yang dikategorikan sebagai minuman penyegar, sudah banyak warung kecil yang menyediakan tidak hanya teh hitam atau teh merah, tetapi juga teh hijau dan teh dengan aroma tertentu seperti teh chamomile, atau yang sudah dikemas karton (tetra-pack) ukuran 250 ml maupun yang dikemas dalam botol yaitu teh bunga krisan. Bahkan, supermarket tertentu sudah menyediakan teh dalam bentuk tea bags (the celup) dengan rasa lemon, vanila, blackberry maupun apel. Untuk kopi, yang lagi jadi buah bibir yaitu kopi luwak, hasil fermentasi atau pencernaan binatang luwak, yang dikeluarkan bersamaan dengan feses atau kotoran nya, kemudian diolah secara higienis untuk kemudian disuguhkan menjadi kopi berkualitas wahid disamping rasanya yang khas, ada rasa asam yang tercecap lidah. Keunggulan lain selain rasanya yang unik, kopi luwak mengandung kafein dan protein yang lebih rendah dibanding kopi biasa akibat pengaruh proses fermentasi oleh bakteri alami dalam  saluran cerna luwak.

Kopi Luwak

Kopi Luwak

White Tea

White Tea

Secangkir kopi mengandung jumlah kafein yang lebih tinggi dari pada teh, yaitu 85 mg per saji sedangkan secangkir teh hanya 35 mg per saji (kadar kafein sedang), namun kafein tidak selamanya berarti negatif, nyatanya kafein berperan meningkatkan kerja psikomotor sehingga tubuh tetap terjaga dan menimbulkan efek fisiologis berupa peningkatan energi. Kafein dalam kopi instan sebesar 2,8 – 5% sedangkan kopi arabika (kopi dengan cita rasa terbaik) 1,10% dan kopi jenis robusta 1,48%, yang menjadi cirri khas kopi Indonesia adalah kopi arabika, aromanya yang khas apalagi kalau diseduh menjadi kopi tubruk disukai mulai dari desa sampai kota metropolitan, ada juga yang menyukai kopi latte, dengan menyeduh kopi dan ditambahkan susu dengan rasio 3:1 atau pun yang menjadi tren kopi di kafe-kafe tempat nongkrongnya youngsters, espresso, biji kopi diekstrak dengan uap panas bertekanan tinggi,  kopi jenis ini juga nikmat disajikan dingin (frappé). Lain kopi, lain lagi teh, kandungan senyawa catechin yang termasuk senyawa polifenol (berperan sebagai zat antioksidan yang mengusir radikal bebas dalam tubuh) menjadikannya lebih diunggulkan menjadi minuman kesehatan, apalagi yang diseduh daun teh yang hanya mengalami pelayuan (teh hijau) atau pun pucuk daun teh yang masih menggulung saja yang diseduh (white tea), kandungan catechin pada teh hijau sebesar 210 mg per 100 g (sumber lain mengatakan 30% dari berat keringnya), namun semakin  muda daun semakin tinggi kandungan antioksidannya, white tea mengandung zat antioksidan 3 kali lebih tinggi dibanding teh hijau dan kandungan kafein didalamnya 15 mg per saji lebih rendah daripada teh hijau yaitu 20 mg per saji. Namun white tea belum begitu dikenal di sini dibandingkan di Negara luar, seperti Jepang dan China.

Rosela

Teh Rosela

Bila minuman penyegar sebelumnya mengandung kafein maka rosela tidak, sudah banyak penelitian terhadap bunga rosela karena khasiatnya dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Kini jika kita makan siang atau having diner di distro makanan atau pun di resto-resto dalam menu minuman nya telah tersedia pilihan teh rosela, sirup, smoothies, ataupun puding rosela. Pilihan minuman alternatif jatuh pada minuman yang berasal dari bunga ini karena kaya akan zat fitokemikal yaitu, antosianin, protocatechuic acid (PCA), flavonoid (gossypetin, hibiscetine, dan sabdaretine) dan pigmen khas rosela yang disebut hibiscin. PCA, pigmen, dan flavonoid khas inilah yang membedakan rosela dengan teh. Zat PCA memegang peran penting dalam penyembuhan penyakit, menurut hasil penelitian, PCA dapat mengurangi pertumbuhan sel-sel tumor. Dengan mengkonsumsi 5 gelas teh rosela per hari diharapkan dapat menurunkan tekanan darah, mengurangi batuk, meningkatkan stamina, mempermudah buang air besar, mencegah arterosklerosis, meningkatkan stamina, anti kejang, antiseptik usus, membunuh bakteri penyebab TBC, mencegah serangan jantung, mengobati cacingan dan mengurangi kecanduan alkohol serta narkoba.

Lain rosella, lain lagi minuman sehabis sarapan di rumah, yaitu jus, untuk mendapatkan efek menyehatkan ada baiknya pemilihan buah atau sayuran yang akan di jus dipilih dari buah-sayuran dengan kandungan antioksidan dan gizi yang baik, biasanya antosiain (zat warna) berada dalam buah dan sayuran berwarna mencolok. Tamarillo atau terung belanda dan tomat merupakan buah yang tepat untuk dijadikan jus, selain rasanya segar bila diminum dingin, tomat juga mengandung likopen dan dalam tamarillo terkandung xanthone, lutein, karoten dan antosianin, yang sejatinya merupakan zat-zat antioksidan. Buah-buah tropis Indonesia memang kaya akan kandungan zat yang menyehatkan (fitokemikal) sebut saja manggis (Garcinia mangostana) dan delima (Punica granatum L.) yang menjadi primadona di pasaran internasional, karena masing-masing dari buah ini mempunyai rasa yang khas dan bila dikaji lebih dalam manggis mengandung xanthone dengan nilai ORAC 17000 unit dan delima 3037 unit, ORAC menunjukkan tinggi nya kapasitas antioksidan yang dikandung suatu bahan. Sari buah delima menurut penelitian yang dimuat dalam American Journal of Cardiology tahun 2008, delima dapat membantu penderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung koroner. Terlebih lagi bila jus dibuat dengan tidak mencampur air ke dalam potongan buah atau sayuran, dapat mengefektifkan zat yang terkandung di dalamnya, karena penambahan air akan merusak ikatan hidrogen sehingga merusak zat gizinya.

Buah Boabab

Buah Baobab

Pepino

Pepino

Buah Matoa

Buah Matoa

Ada juga buah pepino yang aslinya dari Peru, buah yang masih famili terung-terungan (Solanaceae) ini memiliki bentuk yang menyerupai terung ungu, namun lebih pendek dan kulit buahnya bergaris ungu putih atau hijau kalau masih muda dan rasanya merupakan kombinasi blewah, mentimun dan melon. Buah ini memiliki kandungan vitamin C yang tinggi sebesar 25,1 mg per 100 g dan untuk 100 gram nya mengandung 80 kalori, dan dianjurkan dikonsumsi oleh penderita penyakit jantung dan darah tinggi sebab menurut peneliti Sue Baic, dari British Dietetic Association, kandungan kalium (K) yang tinggi dalam pepino membantu menurunkan tekanan darah. Puncak dan daerah Dieng Jawa Barat menjadi tempat pembudiyaan pepino di Indonesia. Sedangkan brokoli dan kubis ungu dianjurkan untuk mengukusnya tidak lebih dari 5 menit, karena lebih lama dari itu dapat merusak atau menghilangkan zat gizinya. Jus dengan berbahan dasar sayuran memiliki rasa yang kurang tasty, karena itu dapat dicampur dengan buah agar lebih menyegarkan. Kelebihan kubis ungu terletak pada warnanya yang tua, menandakan banyaknya kandungan antosianin dan brokoli yang di dalamnya terdapat zat-zat fitokimia, yaitu quercetin turunan dari flavonoid, sulforafana dan isotiosianat, dimana dua zat terakhir ini dapat mengurangi resiko terkena kanker usus bila brokoli dikonsumsi 70 gram setiap hari. Sedangkan buah matoa yang endemik Papua,  patut dicoba untuk dikonsumsi karena rasanya tidak kalah dengan kelengkeng. Jika ingin menambah koleksi cita rasa jus ada baiknya mencoba Baobab (Adansonia digitata), berasal dari Sahel daerah di Afrika, buah yang satu ini memiliki batang yang diameternya mencapai ukuran meter dan tingginya sekitar 9-10, bila dibuat jus atau pun sop buah rasanya sangat menyegarkan dan dipercaya untuk mengobati demam, diare, dan haemoptysis. Selain rasanya yang unik, baobab memiliki kandungan nutrisi tinggi, dengan kandungan asam amino yang lengkap yaitu lisin, sistin, arginin, leusin dan isoleusin dalam jumlah besar yaitu 17,36 g, 12,63 g, 8,62 g, 7,48 g dan 7,10 g per 100 gram daging buah serta mengandung vitamin C dalam jumlah besar 150-499 mg per 100 g bila dibandingkan dengan kiwi yang hanya mengandung vitamin C 52-120 mg per 100 g dan jeruk 46 mg per 100 g.  Mungkin jus baobab belum dapat ditemukan di pusat-pusat penjualan makanan, namun keberadaannya di Indonesia patut diperhitungkan sebagai buah sumber vitamin C yang baik untuk dikonsumsi baik segar ataupun dalam bentuk olahan (minuman dan makanan).

Jamu Kunyit Asam

Jamu Kunyit Asam

Melirik isi bakul ayu jamu, sebenarnya jamu kunyit asem, beras kencur atau pun wedang jahe patut diperhitungkan sebagai minuman pelepas dahaga alternatif, tidak hanya didapat dari  ayu jamu, tapi sekarang sudah bisa didapatkan dalam kemasan karton dan kaleng di pasaran. Kandungan senyawa atsiri (asam cinnamic, asam anisic, borneol) dalam kencur sekitar 0,02% zat-zat inilah yang bertanggungjawab atas aromanya yang khas, kencur juga ampuh untuk mengobati keseleo disamping sebagai salah satu bahan untuk membuat minuman tradisional. Bila malam tiba, biasanya banyak penjual minuman jahe, sekoteng, minuman ini berfungsi sebagai penghangat tubuh dan aroma dari gingerol senyawa atsiri dalam jahe menjadikan sekoteng menjadi harum. Kandungan minyak atsiri dalam tepung jahe berkisar 15-35%. Sedangkan hasil penelitian di China menyatakan bahwa 5-10% ekstrak jahe yang disuntikan ke pasien penderita rematik dan sakit punggung kronis mendapatkan efek berupa pengurangan rasa sakit dan pembengkakan. Begitu juga dengan kunyit, khasiatnya sebagai obat dan minuman tradisional sudah tidak diragukan lagi, misalnya untuk melegakan hidung tersumbat dengan cara membakarnya dan kemudian menghirupnya,  bila merebus jus kunyit dengan jeruk nipis dan madu atau gula selain sebagai minuman penyegar, dapat digunakan untuk penyembuhan penyimpangan kerja ginjal, apalagi disajikan dingin mm..segarrrr…

Teh kombucha

Teh Kombucha

Ada juga minuman yang disinyalir bisa membuat kita awet muda, selain rasanya yang asam-asam segar, kambucha. Minuman ini konon sudah dikenal rakyat Cina sejak 250 SM dan khasiatnya dipercaya untuk memperpanjang umur. Kombucha merupakan simbiosis bakteri asam asetat (Acetobacter xylinum) dan khamir (Schizosaccharomyces pombe, Schizosaccharomyces ludwigii, dan Pichia fermentants), berbentuk piringan kenyal seperti jel (gelatinoid). Biasanya minuman kombucha dibuat dengan memfermentasi larutan teh hijau atau teh hitam bergula dalam jar atau botol kaca higienis dan ditutup kain kasa. Lama fermentasi antara 8-12 hari. Namun di pasaran Eropa minuman kombucha sudah beragam dengan rasa jahe, cranberry dan rasa buah lain sehingga lebih nikmat rasanya. Bahan dasar teh sebagai medium pertumbuhan kombucha juga dapat diganti dengan sari buah untuk mendapatkan rasa dan aroma yang berbeda seperti sari buah strawberry, tomat dan semangka. Salah satu peneliti kenamaan, Dr. Rudolf Sklenar, menyatakan proses penawaran racun atau detoksifikasi dalam tubuh dikarenakan adanya asam glukonat yang bekerja mengeluarkan kolesterol dan racun dari tubuh. Terapi teh kombucha terhadap penyakit arthritis, konstipasi, obesitas, batu ginjal, rematik, arteriosklerosis, impoten dan kanker yang dia lakukan, memberikan hasil positif. Kombucha juga bersifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Shigella sonmei, E. coli, dan Salmonella typhimurium. Karena hal inilah kombucha dapat dianggap minuman untuk memperpanjang umur. Jumlah teh kombucha yang disarankan untuk dikonsumsi adalah 150 ml atau 2/3 gelas belimbing. Selanjutnya jumlah takaran dapat dinaikkan sedikit demi sedikit sampai 450 ml. Kombucha juga bisa digunakan untuk melangsingkan tubuh bila diminum sebelum makan sedangkan bagi mereka yang ingin gemuk-kan teh diminum setelah makan. So, drink smart, get health, ya kan?

DAFTAR PUSTAKA

Aljaro, Agustian, et al. 2004. Descriptors for Pepino (Solanum muricatum). The International Plant Genetik Resources Institute (IPGRI). Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR). ISBN 92-9043-616-6.

Anonim. 2005. Tanaman Obat Indonesia; Kencur. BPPT. IPTEKnet. Sentra Informasi IPTEK.

Anonim. 2010. Jahe. GNU Wikipedia Free Encyclopedia. GNU Free Documentation License. Wikimedia Foundation, Inc.

Anonim. 2010. Kunir. GNU Wikipedia Free Encyclopedia. GNU Free Documentation License. Wikimedia Foundation, Inc.

Broto, Wisnu. 2009. Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk Pasar. Badan Penelitian Pengembangan Pertanian. ISBN 978-979-1116-19-0.

Frank, W. Gunther. 1993. Kombucha Healthy Beverage  and Natural Remedy from The Far East. Search For Health. Vol I. No. 6.

Glew, H. Robert, et al. 1997. Amino Acid, Fatty Acid, and Mineral Composition of 24 Indigenous Plants of Burkina Faso. Journal of Food Composition and Analysis. Article No. FC970539. Page 205-217. Academic Press.

Lister, CE., SC Morrison, NS Kerkhofs, KM Wright. 2005. The Nutritional Composition and Health Benefits of New Zealand Tamarillos. Crops & Food Research Confidential Report No. 1281. New Zealand Institute for Crop & Food Research Limited. Christchurch, New Zealand.

Morton, J. 1987. Roselle. p. 281–286. In: Fruits of warm climates. Julia F. Morton, Miami, FL.

Odetokun, S. M. 1996. The Nutritive Value of Baobab Fruit (Adansonia digitata). Federal University of Technology. Departement of Chemistry. Akure, Nigeria. Jurnal La Rivista Italiana Delle Sostanze Grasse. Vol. LXXIII.

Paajanen, Terri. 2001. Green Tea for Breast Cancer. The New York Times Company, Inc.

Roth, Siobhan. 2007. Kombucha Fermenting A Revolution in Health Drinks. PG Publishing Co., Inc. Washington DC.

Shun, Yuan Di. 2006. White Tea Caffeine The Complex Truth. Zhongguo Baicha. Xiamen Daxue Chubanshe dalam Amazing-Green-Tea.com

Vertuani, Silvia, et al. 2002. Antioxidant Capacity of Adansonia digitata Fruit Pulp and Leaves. Jurnal Acta Phytotherapeutica. Vol. V, n. 2.

 

Penyusun :

Puspa Mega Hayati, ST

 
Leave a comment

Posted by on March 24, 2011 in Pangan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: